Menjaga Kearifan Lokal Dompu di Tengah Demokrasi Modern yang Berliku : (Sebuah Renungan )
Ketika demokrasi menjadi semakin kompleks, cepat, dan penuh tekanan, masyarakat sering kali mencari pegangan moral agar tidak terseret arus konflik dan kepentingan. Kabupaten Dompu, sebuah daerah yang kaya budaya dan adat istiadat, sesungguhnya memiliki “harta karun sosial” yang dapat menjadi pondasi kokoh bagi demokrasi lokal. Harta karun itu adalah kearifan lokal—nilai-nilai hidup yang diwariskan oleh generasi leluhur Dompu dan terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Kearifan lokal Dompu bukan sekadar cerita lama; ia adalah cara hidup, cara menjaga harmoni, cara menyelesaikan persoalan tanpa melahirkan permusuhan. Di tengah demokrasi yang kadang keras dan penuh persaingan, kearifan lokal dapat menjadi obat penenang bagi masyarakat dan penuntun moral bagi pemimpin.
Tulisan ini ingin mengajak kita kembali melihat betapa berharganya kearifan lokal Dompu sebagai benteng etika untuk menjaga demokrasi yang semakin pelik. Dengan pendekatan filosofis dan sentuhan pesan agama, kita belajar bahwa masa depan politik Dompu hanya akan stabil jika akar budayanya tetap kuat.
Kearifan Lokal : Akar yang Menjaga Pohon Demokrasi Tetap Berdiri
Demokrasi sering digambarkan sebagai pohon besar yang daunnya menjulang ke mana-mana. Namun seindah apa pun pohon itu, ia tidak akan bertahan tanpa akar. Di Dompu, akar itu adalah nilai-nilai lokal seperti: kebiasaan gotong royong yang menekankan kebersamaan, kesadaran untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan, saling menghargai dalam ucapan dan tindakan, menjaga hubungan sosial dengan empati.
Nilai-nilai ini bagaikan akar tua yang menjaga agar demokrasi tidak mudah tumbang oleh angin konflik, fitnah, atau kepentingan kelompok. Demokrasi memang memberi ruang bagi perbedaan, tetapi kearifan lokal memastikan perbedaan itu tidak berubah menjadi perpecahan.
Dalam filosofi lokal, masyarakat Dompu percaya bahwa “Dana ro dou”—tanah dan manusia—adalah satu hubungan yang tidak boleh dipecah oleh kepentingan politik. Ketika akar kuat, pohon tidak takut badai; ketika kearifan lokal hidup, masyarakat tidak takut demokrasi yang ribut.
Demokrasi Tanpa Kearifan Lokal Hanya Menjadi Suara, Bukan Suara Hati
Pemilu, Pilkada, dan dinamika politik lain sering kali hanya menekankan “jumlah suara”. Padahal dalam tradisi Dompu, suara bukan hanya angka, tetapi amanah. Orang Dompu percaya bahwa sebuah keputusan tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia, tetapi juga di hadapan Allah.
Kearifan lokal mengajarkan bahwa berbicara harus menggunakan kata yang baik dan hati yang jernih. Sementara demokrasi modern kadang membuat orang saling menyerang, saling memfitnah, atau saling merendahkan demi menang.
Jika demokrasi hanya mengejar kemenangan, bukan kebenaran, maka ia telah kehilangan rohnya. Pesan agama mengingatkan : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini sejalan dengan tradisi Dompu yang menekankan pentingnya santun, jujur, dan rendah hati dalam berdebat, bermusyawarah, atau berbeda pandangan politik.
Musyawarah sebagai Warisan, Bukan Sekadar Prosedur
Di Dompu, musyawarah bukan hanya istilah administratif. Sebelum demokrasi modern lahir, masyarakat Dompu sudah lama menyelesaikan persoalan dengan duduk bersama, menahan ego, dan mencari titik temu.
Musyawarah dalam kearifan lokal mengandung nilai : Sabar dalam mendengar pendapat orang lain, Ikhlas dalam menerima keputusan bersama, dan Amanah dalam menjalankan kesepakatan.
Tradisi ini selaras dengan pesan Nabi Muhammad SAW:
“Tidaklah suatu kaum bermusyawarah kecuali mereka akan mendapatkan petunjuk.” (HR. Thabrani)
Di era demokrasi modern, di mana diskusi publik sering memanas, tradisi musyawarah ala Dompu dapat menjadi pendingin suhu politik. Demokrasi menjadi damai, tidak keras; menjadi dialog, bukan adu teriakan, Musyawarah itu seperti aliran sungai yang jernih—ia mengalir perlahan, tapi pasti membawa kesejukan.
Kearifan Lokal sebagai Penjaga Emosi Politik
Politik sering kali membuat masyarakat mudah tersulut: perbedaan pilihan menjadi permusuhan, perbedaan pendapat menjadi kebencian. Namun budaya Dompu mengajarkan untuk menahan diri, terutama dalam ucapan. Jaga lidahmu, jaga hatimu, Ketika lidah dijaga, konflik dapat dicegah. Ketika hati dijaga, hubungan tetap harmonis meski pilihan politik berbeda. Dalam agama juga diajarkan : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
Jika prinsip sederhana ini diterapkan dalam demokrasi Dompu, maka perbedaan pilihan politik tidak akan menjadi alasan rusaknya persaudaraan. Politik hanyalah urusan sementara; persaudaraan adalah urusan seumur hidup.
Teknologi dan Demokrasi Digital: Tantangan Baru yang Tetap Bisa Dijawab oleh Kearifan Lokal
Hari ini, berita politik menyebar secepat angin. Hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian bisa membakar emosi masyarakat dalam hitungan menit. Namun justru di era inilah kearifan lokal menjadi lebih penting.
Kearifan seperti: tabayyun (mencari kebenaran sebelum percaya), menahan diri sebelum bertindak, memahami perasaan orang lain menjadi senjata moral yang sangat relevan. Selaras dengan QS. Al-Hujurat: 6 “Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah kebenarannya…”.
Jika masyarakat Dompu memadukan teknologi modern dengan kebijaksanaan lokal, maka demokrasi digital tidak akan menjadi ancaman, tetapi peluang untuk menjaga peradaban yang lebih baik.
Pemimpin yang Berakar pada Adat dan Berjiwa Agama
Kearifan lokal Dompu tidak hanya mengatur hubungan masyarakat, tetapi juga membangun konsep kepemimpinan. Pemimpin ideal bukan sekadar orang yang menang dalam pemilu, tetapi: orang yang dekat dengan rakyat, orang yang menegakkan keadilan, orang yang takut kepada Allah, dan orang yang memegang adat sebagai pedoman moral.
Leluhur Dompu selalu menilai pemimpin berdasarkan kelapangan hati. Pemimpin yang hatinya luas tidak akan mudah tergoda oleh kepentingan kelompok, tidak mudah marah, dan tidak mudah mengabaikan suara rakyat.
Pesan agama menambahkan bahwa pemimpin adalah pengembala yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas umatnya (HR. Bukhari Muslim).
Ketika nilai adat dan nilai agama menyatu, maka lahirlah pemimpin yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.
Merawat Demokrasi dengan Akar Dompu dan Cahaya Agama Demokrasi modern memang kompleks—penuh intrik, persaingan, dan dinamika yang tidak selalu mudah dikelola. Namun Kabupaten Dompu memiliki kekuatan besar yang sering dilupakan: kearifan lokal yang kaya, mulia, dan selaras dengan ajaran agama.
Jika akar adat dipertahankan, dan cahaya agama dijadikan petunjuk, maka demokrasi Dompu tidak akan tersesat dalam kebisingan zaman. Ia akan tumbuh sebagai sistem yang bukan hanya adil, tetapi juga beradab; bukan hanya prosedural, tetapi juga spiritual.
Pada akhirnya, demokrasi Dompu akan menjadi perjalanan yang damai, terarah, dan penuh martabat—sebuah kombinasi indah antara warisan leluhur dan nilai-nilai ketuhanan.
Penulis Oleh : Yusuf (Anggota KPU Dompu)